yumnibiz – Sudah dua jam Nasrudin berdiri di pinggir jalan. Ia berjalan mondar-mandir seperti sedang mencari sesuatu. Seorang lelaki yang kebetulan lewat menjadi penasaran dan bertanya kepadanya, “Apa yang sedang kamu lakukan disini?” “Saya sedang mencari cincin saya yang hilang,” jawab Nasrudin. Mendengar jawaban ini lelaki tadi bertambah heran. “Dimana kamu menghilangkan cincin itu?” “Di dalam gudang,” kata Nasrudin sekenanya. “Lantas kenapa mencarinya disini?” tanya lelaki tadi. Mendengar hal itu Nasrudin menjawab, “Gudang saya gelap, jadi sulit menemukannya. Tapi di jalanan ini terang sekali.” Tingkah Nasrudin memang aneh, tapi sebenarnya ia sedang menyindir kita semua yang sering kali tanpa sadar melakukan hal serupa. Kita punya masalah A, tapi alih-alih menyelesaikannya, kita malah mengambil B sebagai solusinya. Ada banyak contoh yang bisa kita ambil dari kehidupan kita sehari-hari. Banyak suami yang mempunyai masalah dengan istrinya di rumah, tapi alih-alih menyelesaikan masalah tersebut dengan diskusi dari hati ke hati, mereka malah membawa masalahnya ke kantor. Banyak juga istri-istri yang sedang bermasalah dengan suaminya malah mencari teman kantornya untuk curhat. Nah, bisa dibayangkan bagaimana kalau suami-suami yang sedang bermasalah ini bertemu dengan istri-istri yang bermasalah. Pasti nyambung dan seru pembicaraannya. Kelanjutannya, silahkan Anda tebak sendiri. Masalah dengan bos di kantor juga sering “diselesaikan” dengan cara serupa. Anda tak berani berbicara langsung dengan bos Anda. Anda cuma menggerutu dalam hati dan membawa masalah tersebut ke rumah. Anda juga bercerita dengan teman-teman Anda. Untuk sekedar curhat sih boleh saja. Tapi selama Anda tak berani membicarakannya dengan bos Anda, masalah tersebut tak akan pernah selesai.

Di organisasi, kejadian seperti inipun sering terjadi. Saya pernah aktif dalam sebuah organisasi yang tentunya tak perlu saya sebutkan namanya disini. Karena dikerjakan sebagai pekerjaan sambilan — semua pengurusnya adalah orang-orang sibuk di kantor masing-masing — maka tak heran kalau jalannya organisasi tidak terlalu lancar. Namanya juga organisasi, pastilah ada klik-klik dan konflik-konflik yang sebenarnya lumrah saja terjadi. Beberapa pengurus misalnya, merasa tidak terlalu cocok dengan gaya si ketua umum. Lantas apa yang mereka lakukan? Anda tentu bisa menebaknya. Bukannya menyelesaikan masalah ini dengan si ketua umum, para pengurus yang berbeda pendapat tadi malah menyelenggarakan rapat-rapat tandingan. Tujuannya apalagi, kecuali membicarakan kejelekan dan kelemahan si ketua umum. Lantas, apakah perbaikan bisa terjadi? Tentu saja tidak. Pertentangan yang ada malah semakin menajam. Bagaimana bisa terjadi perbaikan kalau diantara pihak-pihak yang berbeda pendapat tadi tidak pernah bertemu untuk menyamakan persepsi dan paradigma? Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Ini karena kita punya kecenderungan menghindari masalah. Kita tidak memiliki kesabaran untuk menghadapi kesulitan. Bukannya menyelesaikan, kita malah melarikan diri untuk mencari ketentraman yang semu. Kita lupa bahwa seringkali kesulitan itu sebenarnya adalah anugerah yang diberikan Tuhan agar kita dapat berpikir, dan menganalisa masalahnya secara mendalam. Seperti pernah dikatakan Albert Einstein, “The significant problem cannot be solved at the same level of thinking we were at when we create them.”. Masalah-masalah penting yang kita hadapi tidaklah dapat diselesaikan dengan tingkat berpikir yang sama ketika kita menciptakan masalah tersebut. Jadi, kalau Anda mempunyai masalah, dan kemudian mampu menyelesaikannya dengan baik, kemampuan Anda sekarang pastilah sudah meningkat secara signifikan.  Coba bayangkan pada saat Anda dulu duduk di Sekolah Dasar. Sewaktu di kelas 6 Anda harus menghadapi masalah terlebih dahulu untuk diselesaikan. Kita menyebutnya ujian. Nah, begitu Anda lulus ujian ini Anda boleh masuk SMP. Jadi kemampuan Anda sekarang sudah bertambah. Anda naik tingkat bukan karena diberi hadiah oleh guru tapi karena Anda sudah mampu menyelesaikan suatu masalah.. Nah, kalau Anda berpikir demikian, Anda akan sadar bahwa perkembangan diri Anda ditentukan oleh seberapa banyak masalah yang Anda selesaikan dalam hidup ini. Bahkan kualitas hidup Anda bukanlah ditentukan oleh seberapa lamanya Anda hidup, tetapi oleh seberapa banyak masalah yang dapat kita selesaikan dengan baik. Masalah kalau demikian bukanlah bencana. Ia adalah anugerah terselubung yang diberikan Tuhan untuk membuat kita tumbuh dan dewasa. Jadi, bersahabatlah dengan masalah. Dekatilah masalah dengan penuh kesabaran, dengan suatu keinginan untuk mendapatkan manfaat yang maksimal dari masalah tersebut.

Seorang pencinta spiritual, Krisnamurti, pernah mengatakan, “If we can really understand the problem, the answer will come out of it because the answer is not separate from the problem.” Kalau kita benar-benar memahami permasalahannya, jawaban terhadap permasalahan tersebut akan kita dapatkan dari sana sebab jawabannya sebenarnya tidak pernah terpisah dari masalah itu sendiri.” Analoginya adalah seperti kalau Anda makan durian. Makan durian terlalu banyak bisa membuat Anda “mabuk” bukan? Namun tahukah Anda dimana solusi terhadap masalah ini? Di kulit durian itu sendiri! Anda harus minum air putih, tapi jangan menggunakan gelas. Gunakan kulit durian tersebut karena disanalah terdapat zat-zat yang bermanfaat sebagai penetralisir.

Ini suatu petunjuk alam yang sangat jelas: dimana ada masalah disitu ada pula solusinya. Jadi Anda tak perlu takut dengan masalah, karena masalah dan solusi sebenarnya diciptakan dalam satu paket!. Memahami paradigma baru ini akan benar-benar merubah approach Anda terhadap masalah apapun yang Anda hadapi. Dimana ada masalah, disitu jugalah Anda akan menemukan solusinya. Kuncinya hanya satu : Belajarlah Mendengarkan! Jadi kalau Anda punya masalah dengan istri Anda, tenanglah, jangan mencari jawaban dari istri orang lain! Jawabannya ada di istri Anda sendiri. Tapi untuk itu Anda perlu duduk berdua untuk saling mendengarkan. Saya ulangi lagi, Anda harus saling mendengarkan, bukannya saling berbicara. Masalah di dunia ini pasti akan selesai kalau setiap orang mau mendengarkan satu sama lain. Tapi harus saya akui, mendengarkan itu memang sulit.

Yang sulit sebenarnya adalah menguasai ego kita sendiri. Makanya, pernah ada lelucon seperti ini. Katanya, di tahun pertama pernikahan, si istri banyak bicara sementara si suami mendengarkan. Di tahun kedua, gantian suami yang bicara, istrinya mendengarkan. Sementara di tahun ketiga dua-duanya berbicara. Yang mendengarkan adalah…… tetangga! Gyahahahahaaaa………….. (Arvan Pradiansyah)