oleh: Erwin Arianto Kanal:

Opini Aduh saya lagi malas nih ……

Lemes

apalagi habis libur, ketika rasa malas itu datang rasanya tidak ingin saya melakukan apapun, jangan kan untuk berfikir sukses, untuk menggerakkan badan pun seperti susah sekali, maunya istirahat terus terutama tidur, mata mengantuk, fikiran tertutup, badan terasa pegal-pegal. Saya juga sering berdiskusi dengan banyak sahabat, hampir semua orang pernah mengalami rasa malas.Seorang sahabat mengatakan “Wah..kalau ada yang nggak malas, hebatlah”. Dari perkataan tersebut saya menyimpulkan bahwa kita semua yaitu orang yang malas dengan yang rajin, yang sukses dengan yang gagal sama-sama menghabiskan waktu 24 jam perhari. Jadi tinggal bagaimana kita memanfaatkannya Memang rasa malas sudah merupakan fitrah dari Tuhan dan kita harus yakin bahwa pemberian Tuhan itu selalu ada manfaatnya, hanya saja permasalahannya terletak pada bagaimana kita mengatasi rasa malas tersebut, mencoba mengambil manfaat atau hikmah dari penanganan rasa malas kita dan belajar melihat dari sudut pandang yang lebih baik. malas biasanya terjadi karena kita gak tau “tujuan” apa yang sebenarnya kita cari, itulah pentingnya kita membuat GOAL SETTING Tanamkan bahwa hidup ini milik Anda maka segala sesuatu yang Anda lakukan akan berpengaruh diri Anda sendiri. Jika Anda malas maka Anda akan menjadi orang biasa-biasa saja. Tapi jika Anda berhasil menyingkirkan rasa malas itu maka Anda telah menjadi orang yang cemerlang dan menuju sukses. Dan saya akan berusaha membangkitkan semangat ketika malas itu datang dengan berfikir “this is my body and I can do whatever i want to it. I can push it, tweak it and listen to it”. Dan beberapa saran untuk mengatasi rasa malas adalah: 1. Identifikasi sebab rasa malas Mengidentifikasi latarbelakang penyebab timbulnya rasa atau sifat malas. Tiap orang akan memiliki derajat faktor penyebab yang berbeda. Apakah karena faktor intrinsik (dalam diri orang bersangkutan) ataukah ekstrinsik (luar) atau karena faktor kedua-duanya. Kalau dari unsur intrinsik relatif lebih bisa dikendalikan ketimbang unsur ekstrinsik. Beberapa unsur intrinsik adalah pengetahuan, sikap, kemampuan dan pengalaman serta percaya diri dalam memahami makna bekerja. Dengan diketahuinya faktor-faktor tersebut seharusnya mulai timbul “keyakinan” bahwa sifat malas akan dapat diatasi. 2. Membuat Tujuan/ Memiliki Impian Orang yang malas biasanya tidak memiliki motivasi untuk berkembang ke arah kehidupan yang lebih baik. Sementara orang yang tidak memiliki motivasi biasanya tidak memiliki tujuan-tujuan hidup yang pantas dan layak untuk diraih. Dan orang yang tidak memiliki tujuan-tujuan hidup, biasanya sangat jarang bahkan mungkin tidak pernah menuliskan resolusi atau komitmen-komitmen pencapaian hidup. Supaya motivasi muncul, seseorang harus berani memutuskan tujuan-tujuan hidupnya. Menurut Andrias Harefa dalam bukunya Agenda Refleksi dan Tindakan Untuk Hidup Yang Lebih Baik,kita harus membuat komitmen atas apa saja yang ingin diselesaikan, dicapai, dimiliki, dilakukan, dan dinikmati (disingkat secamilanik). Contoh komitmen; “pada ulang tahun yang ke …. saya sudah harus menyelesaikan buku yang saya tulis, meraih promosi pekerjaan, mencapai gelar S-3, memiliki rumah dan mobil, melakukan sejumlah kunjungan ke mancanegara, dan menikmati kebahagiaan bersama keluarga.” 3. Permainan pikiran Ketika kita ingin melakukan sesuatu dan tiba-tiba rasa malas muncul, jangan pernah mengucapkan ataupun berpikiran negatif seperti “ah.cape nih, sepertinya tidak akan benar”. Lebih baik berpikiran positif seperti “Wah..sepertinya asyik nih. come on semangat..semangat,dll. Karena bagaimanapun juga energi yang digunakan untuk berpikiran yang negatif dengan positif itu adalah equal alias sama, jadi bukankah lebih baik apabila kita hanya memasukkan pikiran yang positif saja. Otak secara otomatis akan menerima perintah dan masukan dari kita. Kalau berpikiran malas, pasti rasanya malas terus, otak kita akan mencari alasan supaya kita menjadi malas. “Apa yang anda pikirkan akan menjadi kenyataan” (Quantum Learning). Kemudian jika kita melakukan sesuatu harus sesuai mood dan kalau tidak mood maka yang ada hanya malas, yakinlah tidak akan sempurna, seharusnya mood atau tidak, kerjakan saja. Justru mood itu datang saat kita sedang melakukan suatu kegiatan, bukan sebelum kegiatan tersebut akan dilakukan. Masalah penampakan mood itu hanya sebuah alasan sebagai persembunyian akan rasa malas tersebut. Jadi Intinya kerjakan saja dan selalu berpikiran positif, semua itu akan membuat hidup lebih hidup.. Rasa malas tidak akan pernah hilang jika kita terus berpikiran malas dan hanya menunggu malasnya hilang. 4. Melakukan proses Pembelajaran Proses pembelajaran yang lebih intensif lagi melalui aktif berkomunikasi dan atau bergaul dengan para akhli dan dengan bekarja keras-cerdas (semacam sosialisasi). Itu sangat membantu untuk meningkatkan pemahaman tentang makna bekerja yang lebih dalam, dalam kita mencapai tujuan kita atau menggapai mimpi. Di sisi lain sifat malas dipandang tak ada gunanya. Dengan kata lain lewat pembelajaran akan tumbuh kesadaran, minat, keinginan, dan kegiatan nyata. Sebut saja motivasi untuk bekerja keras dan cerdas secara bertahap akan tumbuh berkembang menjadi perilaku keseharian (terinternalisasi). 5. Pergaulan Dinamis Situasi atau lingkungan di mana kita berada sungguh ada pengaruhnya. Orang yang mulai dihinggapi rasa malas sangat dianjurkan agar menjauhi mereka yang juga mulai diserang kebosanan, putus asa, rasa enggan, apalagi negative thinking. Sepintas, berkeluh kesah dengan mereka dengan orang-orang seperti itu dapat melegakan hati. Ada semacam rasa pelepasan dari belenggu psikologis. Walau demikian, dalam situasi malas sedang menyerang, mendekati orang-orang yang sedang down sama sekali tidak menolong satu sama lain. Rasa malas dan kebuntuan justru bisa tambah menjadi-jadi. Ini bisa menjerumuskan masing-masing pihak pada pesimisme, keputusasaan, dan kemalasan total. 6. Disiplin Diri Mengutip perkataan Bapak Andrie Wongso, seorang motivator handal Indonesia, yang bunyinya; “Jika kita lunak di dalam, maka dunia luar akan keras kepada kita. Tapi jika kita keras di dalam, maka dunia luar akan lunak kepada kita”. Jika kita mau bersikap keras pada diri sendiri, dalam arti menempa rasa disiplin dalam berbagai hal, maka banyak hal akan bisa kita kerjakan dengan baik. Sikap keras pada diri sendiri atau disiplin itulah yang umumnya membawa kesuksesan bagi karir profesional yang ingin menggapai mimpi atau sukses. 7. Jangan Membuat Alasan, Lakukan Sekarang Juga Untuk mengatasi rasa malas, kerjakan saja apa yang menurut Anda harus dilakukan. Jangan ditunda dan jangan mencari alasan! Apapun alasan untuk menunda pekerjaan itu, lupakanlah! Sebab sebagian besar alasan adalah alasan yang dicari-cari.. Seringkali juga orang yang malas menutupi alasan malas itu dengan alasan lain yang “elegan”, sehingga terkesan bagi orang lain sebagai alasan yang logis, seperti dengan mengatakan “Saya sibukdengan urusan lain yang lebih penting”, “Saya menunggu waktu yang tepat untukmelakukannya”, “Saya sedang mempersiapkan diri untuk melakukannya”, dan lain-lain. Namun hati kecilnya tak dapat dibohongi. Sebenarnya ia menunda melakukan pekerjaan itu hanya karena malas melakukannya. Bagaimana cara mengatasi rasa malas? Banyak cara yang telah ditawarkan para pakar untuk mengatasinya, tapi cara yang paling efektif adalah : Just do it! Lakukan saja, tanpa menunda! 8. Berdoa Dan tips yang terakhir yang saya berikan adalah berdoa, meskipun dengan semangat yang menggebu, dan terus mencari cara untuk menghilangkan malas, tetap saja kalau tanpa seizin -Nya, semua itu tidak akan pernah berhasil. Supaya kita tidak jadi orang yang sombong, banyak – banyaklah berdoa karena doa merupakan suatu pengharapan yang akan membuat kita selalu termotivasi khususnya secara psikologis. Kata-kata yang diucapkan dalam doa akan menjadi suatu pemikiran yang positif bagi kita. Lalu apa yang kita lakukan setelah kita berdoa? Jawabnya adalah ikhtiar/ berusaha. Perlu diingat bahwa yang benar-benar ada itu adalah orang yang rajin dengan yang malas, bukan yang pintar dengan yang bodoh, karena kita itu semuanya makhluk yang unggul, coba bayangkan sebelum kita terlahir ke dunia ini kita sudah bersaing dengan berjuta-juta sperma, dan kitalah yang keluar sebagai pemenangnya. Mungkin masih banyak cara-cara yang lain, tapi semoga cara-cara diatas bisa menghilangkan atau minimal mengurangi rasa malas kita. Tapi semuanya kembali kepada diri kita sendiri karena rasa malas akan terus menghantui kalau kitanya sendiri tidak pernah ada keinginan kuat untuk menghilangkannya Sekalipun seseorang memiliki cita-cita atau impian yang besar, jika kemalasannya mudah muncul, maka cita-cita atau impian besar itu akan tetap tinggal di alam impian. Jadi, kalau Anda ingin sukses, jangan mempermudah munculnya rasa malas. Karena itu, just do it! Lakukan sekarang juga! Karena jika Anda menundanya maka semakin malas dan takut Anda untuk melakukannya. Sebaliknya semakin tidak ditunda, semakin bersemangat dan termotivasi Anda untuk melakukannya.. Karena mengatasi kemalasan adalah sebuah langkah awal dalam menggapai mimpi/sukses…. “Malas atau rajin dapat disugesti oleh diri kita masing-masing….maka sugestilah diri kita….SAYA BUKAN ORANG PEMALAS !!!!”

Depok, 17 Maret 2008 — Best Regard Erwin Arianto,SE ————————————- SINCERITY, SPEED, INOVATION & INDEPENDENCY