Per tgl.13 Juli adalah awal masuknya anak-anak untuk bersekolah dan merupakan tahun ajaran baru dan menempati tingkat kelas yang lebih tinggi lagi.
Anakku yang per-1, taun ini masuk ke tingkat SLTA, dengan memilih sekolah di SMK Telkom Tele Sandi di Tambun, sementara anakku yang ke-2 saat ini duduk dikelas 5 di SDIT Al-Ichwan, Pasir Gombong.

Berbeda dengan tahun ajaran kemarin, saat saya berangkat kerja dan berangkat ke sekolah kami selalu bertiga boncengan naik motor , yang pertama kali di drop anakku yang per-1 di SMPIT Al-ichwan, terus anakku yang ke-2 kebetulan lokasi sekolah mereka ber-2 tidak begitu jauh. Hal ini dilakukan demi sedikit untuk saving cost saja, mereka berangkat denga Bapaknya, pulang dengan memakai jemputan masing-masing.

Yang jelas lagi taun ajaran ini, banyak pengeluaran untuk kebutuhan sekolah dan keperluan sekolah , tentunya bagi orangtua yang menyekolahkan anaknya.

Tahun ini, tidak seperti itu lagi, strateginya berubah, yang masih SD pakai antar – jemput PP, sedangkan yang mbarep berangkat dengan saya sampai ke sekolahnya di Tambun.

Sekarang untuk mencapai TAMBUN, kami sudah berangkat jam 05.45, untuk jarak tempuh memakan waktu sekitar 45 menit sampai di lokasi sekolah.

Perjalanan di pagi hari lintas kawasan Jababeka , Cibitung , Tambun sudah cukup ramai dengan orang-orang yang menunggu jemputan di pinggir jalan dari Perusahaan yang menyediakan, juga ada pekerja-pekerja yang pakai kendaraan OJEG, atau kendaraan sendiri (motor/mobil) belum bagi mereka yang bekerja di Jakarta, untuk menhindari kemcetan sudah berangkat pagi-pagi juga.

Hasil pengamatan titik-titik kendaraan yang tersendat karena persimpangan atau perlintasan jalan keluar /masuk ke perumahan :

– Wilayah Asrama, kondisi semrawut sama Ojeg, dan angkutan ¾, angkot yang ngetem di mulut jalan, belum lagi pengedaraan motor yang berlawan arah, karena tidak mau berputar di dekat terminal.
– Perumahan Telaga sakinah, kendaran mobil / motor yang keluar masuk ke perumahan tersebut belum lagi bis jemputan, angkutan umum ngetem.
– Taman Aster, juga sedikit tersendat, kondisi sama seperti di Telaga Sakinah.
– Tugu Bambu kuning /Warung Bongkok, ini juga persimpangan yang cukup semrawut, siapa cepat bisa lewat.
– Ada 1 perlintasan , ini saya lupa namanya , ini juga sedikit tersendat.
– Perlintasan Coca cola, ini sedikit lancar karena hanya sebagai putaran balik arah saja atau buat penggedara motor ambil jaln pintas lawan arah untuk kea rah coca-cola .
– Persimpangan Tol Cibitung, termasuk lancar tapi antri sedikit dan perlu hati-hati takutnya siapa cepat langsung nyerobot masuk.
– Pasar Cibitung, juga suka tersendat, karena putaran balik arah dan tempat Angkot / mobil 2/4 ngetem cari penumpang .
– Perlintasan AL-MUSLIM, ini sedikit parah, harus hati-hati, siapa cepat nyerobot masuk, walopun ada pa’ OGAH.
– Perlintasan ini saya lupa namanya, ini juga sering tersendat karena termasuk jalan pintas untuk bias ke jalan kalimalang dan Kota Legenda.
– Perlintasan KOMPAS, walah ini yang parah, walopun ada petugas pa’OGAH, tetep aja bikin antrian siapa cepat nyerobot masuk ditambah angkot dan ¾ ngetem.

Itu cerita diatas kalo berangkatnya, kalau cerita baliknya ya kebalikannya.

Tadi pagi hari ke-2, coba cari anternatif, lewat arah tol Cibitung, terus lewat poll Sinar Jaya menyusuri KALIMALANG, kalau dipikir jalan lewat sini, lebih santai nga terlalu was was sama kendaraan roda empat apalagi sama angkot atau ¾ atau juga bus bus jemputan karyawan belum ASAP yang hitam nyembul dari knalpot, terus juga nga bikin panas di hati klo di salip yang pinginnya tarik tali gas sampai mentok.

Jadi lewat kalimalang jarum kecepatan speedometer kisaran 40 ~ 50, nga banyak main rem, kecuali ngalah sama polisi tidur, sama lobang yang siap ngejebak.

Jadi sekarang ini saya sudah ada di Pabrik sekitaran jam 7 pagi lewat dan akan menjadi rutinitas tiap harinya sampai batas waktu yang aku tentuin.

Dan selalu pesen Istri saat berangkat, hati-hati di jalan, jangan ngebut, padahal jarum speedometer cuman 50 ~ 60. Sekelumit cerita di pagi hari.