Baru ngeh klo di Ngawi ada benteng zaman peninggalan Belanda, mungkin karena kurangnya publikasi dari Pemerintah daerah dalam hal Pariwisata dan Budaya jadi nama Benteng ini kurang begitu di ketahui oleh Masyarakat Indonesia. Menurut sejarahnya Benteng ini di bangun oleh pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1839 – 1845 dengan nama Font Van Den Bosch . Terletak di Kelurahan Pelem , Kecamatan Ngawi Lokasi sejarah ini mudah dijangkau dengan alat transportasi karena letak dekat dengan pusat kota Ngawi . Tapi kendaran apa yang bisa menghantar kita ke lokasi dari terminal sampai ke lokasi ? sepertinya informasinya belum jelas di publikasikan berapa ongkos yang perlu di rogoh, berapa harga tiket masuknya ?
Klo di telusuri di mbah google mengenai benteng ini, banyak para aktivis di blogger di NGAWI berusaha mengangkat peninggalan sejarah ini seperti yang di ceritakan oleh blogger mas dru , beliau dan teman-teman begitu semangat sekali.
Beberapa tempat pariwisata di Kota Ngawi : .
semuanya belum pernah terkunjungi, mungkin karena kurangnya informasi yang saya dapati , jadinya tidak memahami kota Ngawi secara baik, lain halnya dengan Magetan.
Mudah-mudahan ada pihak pertelevisian swasta di Indonesia tertarik untuk meliput keberadaan benteng ini untuk di jadikan Pariwisata andalan di Kota Ngawi.
Padahal kalo di tata dengan baik, Peninggalan sejarah ini akan menghasilkan uang , sayangnya pemerintah daerah selalu tidak memimiliki alasan dana yang tidak cukup dalam hal anggarannya.






gan, ada foto2 ruangan2 d benteng pendhem g?
nah itu dia mas, dapet dari blogger Magetan ya cuman depannya duang. mungkin disana foto-fotonya banyak.
sekarang sudah dibuka umum
pada hari minggu dan sabtu
keren banget tmpatnya..
gag nyangka ada tempat bersejarah yang deket” giitu…
setiiiap harii dii buka,tiket masuk cuma 2ribu aja..
Hayo mbak Dita di publikasikan ke masyarakat agar mengetahuinya dan menjadi obyek wisata bersejarah.
seperti halnya teman-teman di Cikarang – Bekasi
http://bloggercikarang.com/2012/04/sejarah-saung-ranggon-ds-cikedokan/
salam,